Aku lihat iklan permen di stasiun televisi kamarku.
minta, katanya
sambil melentangkan kedua tangannya dengan wajah lugunya
dengan sangat berharap.
gemerlap sinar terbatasi oleh kotak dalam ruangan remang remang
dengan penuh gambar fantasi.
menawarkan.
minta, katanya.
wajahnya bersandar dalam handphone genggamku,
senyumnya yang lugu, ceria dalam cahaya fantasi yang memancar,
menghentak sebentar dan langkahnya, hidupnya.
seperti sayap sayap yang berkilau oleh sinar yang memancar.
berharap.
aku minta, katanya
tetapi itu cuma gambar fantasi kata aku padanya.
ia tertawa anak kecil, ia mengeliat anak kecil.
lihat mataku, katanya. sebuah samudra yang sangat luas.
laut yang penuh mutiara.
aku minta, ia berkata lagi, lalu bernyanyi.
i hate to see. . .
minta, katanya
sambil melentangkan kedua tangannya dengan wajah lugunya
dengan sangat berharap.
gemerlap sinar terbatasi oleh kotak dalam ruangan remang remang
dengan penuh gambar fantasi.
menawarkan.
minta, katanya.
wajahnya bersandar dalam handphone genggamku,
senyumnya yang lugu, ceria dalam cahaya fantasi yang memancar,
menghentak sebentar dan langkahnya, hidupnya.
seperti sayap sayap yang berkilau oleh sinar yang memancar.
berharap.
aku minta, katanya
tetapi itu cuma gambar fantasi kata aku padanya.
ia tertawa anak kecil, ia mengeliat anak kecil.
lihat mataku, katanya. sebuah samudra yang sangat luas.
laut yang penuh mutiara.
aku minta, ia berkata lagi, lalu bernyanyi.
i hate to see. . .
Komentar
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan pesan anda :)